Latar Belakang

Angka  Kematian  Bayi  dan  Angka Kematian Ibu menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Angka kematian ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menunjukkan kemampuan dan kualitas suatu pelayanan  kesehatan.  Kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan yang baik mampu menurunkan AKI dan AKB, seperti dalam penelitian (Chasanah, Siti Uswatun, 2016). Chasanah mengatakan salah satu cara dalam menanggulangi 4 keterlambatan yaitu dengan pemberdayaan masyarakat  dalam menciptakan kerjasama yang baik antar petugas kesehatan dengan masyarakat dalam upaya menurunkan AKI dan AKB (Chasanah, Bayan & Masyarakat, 2016).  Data hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 diperoleh bahwa AKI melahirkan 359 per 100 ribu kelahiran hidup yang memperlihatkan kecenderungan terjadinya peningkatan AKI. Berdasarkan data yang ada sangat jauh dari target pemerintah dalam percepatan pencapaian target yaitu menurunkan AKI menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2015. Angka Kematian Bayi (AKB) juga tidak mengalami penurunan yang berarti. Tahun 2002 data AKB diperoleh 35 per 1000 kelahiran hidup. Tahun 2007, AKB 34 per 1000 kelahiran hidup dan tahun 2012 diperoleh data 32 per 1000 kelahiran hidup.  

     Propinsi Kepulauan Bangka Bellitung merupakan yang memiliki karakteristik wilayah dan penduduk wilayah kepulauan. Kesehatan ibu dan anak merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan hidup, yang menjamin proses tumbuh kembang anak dalam mempersiapkan generasi muda yang sehat dan produktif. Anak dengan tumbuh kembang yang optimal berperan penting dalam mendukung pembangunan bangsa. Gangguan tumbuh kembang disebabkan salah satunya karena status gizi kurang maupun buruk. Gizi kurang maupun buruk tidak hanya terjadi di daerah yang kurang pangan dan pada keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rendah, tetapi juga terjadi di daerah penghasil pangan dan di tengah keluarga dengan kondisi sosial ekonomi menengah. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi atau adanya budaya lokal yang mempengaruhi pola konsumsi anak. Pendekatan berbasis budaya lokal diharapkan dapat membantu mengatasi masalah gizi pada anak terutama dengan memanfaatkan potensi pangan local di wilayah kepulauan Bangka Belitung.

Poltekkes Pangkalpinang membentuk Pusat Unggulan Iptek (PUI) berupa Pusat Kajian yang diharapkan mampu menanggulangi masalah Kesehatan di wilayah Kepulauan. Salah satu alas an penanggulangan kesehatan di wilayah kepulauan adalah karena ciri khas wilayah dan karakteristik budaya penduduk yang memerlukan pendekatan secara spesifik, misalnya dalam hal penanganan kegawat daruratan di wilayah kepulauan yang memerlukan pendekatan berbasis wilayah kepulauan. Upaya penurunan Angka kematian ibu dan bayi di Propinsi Bangka Belitung memerlukan kerjasama tidak saja antar tenaga kesehatan tetapi juga dengan masyarakat misalnya nelayan. Poltekkes Pangkalpinang sebagai satu satunya Politeknik Kesehatan di Propinsi Bangka Belitung telah mendapatkan dukungan baik dari pemerintah daerah dan juga masyarakat dan organisasi profesi. Pusat kajian yang dibentuk diharapkan menjadi sarana untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan berdaya saing terutama di wilayah kepulauan, pusat penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat bagi dosen dan tenaga kependidikan, serta pusat penanggulangan masalah kesehatan di wilayah kepulauan.

Kegiatan pusat kajian terdiri dari kegiatan di dalam dan di luar ruangan. Kegiatan di dalam ruangan yaitu kegiatan yang berlangsung atau memanfaatkan, laboratorium terpadu dan laboratorium computer seperti pembelajaran/ pembimbingan mahasiswa, pemeriksaan kesehatan, penyuluhan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Pembelajaran pada Laboratorium Terpadu dan laboratorium computer mencakup hard skill seperti keterampilan kerja meliputi pengolahan pangan lokal, pendekatan komunitas dalam penanggulangan kegawat daruratan, enterprenership serta soft skill seperti etika kerja dan komunikasi yang sesuai dengan wilayah kepulauan.

Kegiatan pusat kajian yang dilaksanakan di luar ruangan yaitu melakukan pelayanan kesehatan khususnya bagi ibu dan anak dengan pendekatan wilayah kepulauan sehingga derajat kesehatan ibu dan anak meningkat. Pelayanan kesehatan yang dilakukan berupa pemeriksaan kesehatan, penyuluhan, pelatihan kader posyandu dan peningkatan keterampilan melalui pelatihan pembuatan pangan berbasis sumber daya lokal yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan tambahan pada masyarakat sasaran.

  • Upcoming Events

  • Statistics

© 2018 POLTEKKES KEMENKES PANGKALPINANG.