Dampak Screen Time pada Kesehatan Mental dan Fisik Kaum Muda di Indonesia: Tantangan dan Solusi
Oleh: Lestarida Nainggolan S, S.ST.,M.K.M. (Jurusan Kebidanan)
Pangkalpinang, 27 Juli 2025
Di era digital yang semakin maju, waktu layar (screen time) telah menjadi bagian dari kehidupan kaum muda, tak terkecuali di Indonesia. Data menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar 5,7 jam per hari di depan layar pada tahun 2022, menempatkan Indonesia pada jajaran teratas secara global (Kompas.com, 2022). Fenomena ini memicu kekhawatiran serius terhadap kesehatan mental dan fisik generasi muda, mengingat 15,5 juta (34,9%) remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental (Kementerian Kesehatan RI & UNICEF Indonesia, 2022). Dampak kesehatan mental yang diakibatkan oleh screen time berlebihan cukup signifikan dan beragam. Paparan layar yang intens berkorelasi dengan gangguan tidur (Aulia & Ifdil, 2017) yang secara langsung memengaruhi konsentrasi dan mood di siang hari. Paparan dari platform media sosial dan perbandingan sosial secara terus-menerus juga mempengaruhi citra diri dan seringkali memicu kecemasan dan depresi yang mendalam (Azizah & Kurnia, 2022). Perasaan tidak mampu, kesepian, dan rendah diri seringkali muncul ketika kaum muda membandingkan kehidupan nyata mereka dengan representasi ideal orang lain. Selain itu, munculnya fenomena cyberbullying juga menjadi ancaman nyata dengan dampak psikologis. UNICEF mencatat sebanyak 45% remaja Indonesia pernah menjadi korban cyberbullying. Pengalaman ini dapat merusak citra diri, menyebabkan kecemasan parah, depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), bahkan pada kasus ekstrem dapat memicu ideasi bunuh diri. Screen time berlebihan juga menimbulkan masalah kesehatan fisik. Postur tubuh yang buruk saat menggunakan gawai dapat menyebabkan nyeri leher dan punggung kronis atau "tech neck" (Sari, 2020). Penggunaan layar berkepanjangan juga meningkatkan risiko sindrom mata kering dan ketegangan mata digital. Lebih jauh, gaya hidup sedentary yang diakibatkan oleh screen time berlebihan berkontribusi pada obesitas dan masalah kesehatan terkait seperti diabetes tipe 2 pada anak dan remaja (Kurniawan & Fitri, 2019), serta memperburuk masalah kardiovaskular dalam jangka Panjang.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan solusi komprehensif. Edukasi dan kesadaran dini tentang "digital detox" harus digalakkan di sekolah dan keluarga, mendorong dialog terbuka antara orang tua dan anak. Penting untuk menetapkan batasan waktu dan konten yang jelas, serta memprioritaskan aktivitas non-layar seperti olahraga dan interaksi sosial tatap muka. Literasi digital juga krusial, membekali kaum muda dengan kemampuan berpikir kritis terhadap konten daring dan keterampilan menghadapi cyberbullying. Terakhir, peningkatan akses dan promosi layanan kesehatan mental sangat vital, termasuk melalui telekonsultasi, untuk memastikan kaum muda mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa teknologi bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya. Solusi yang efektif tidak berarti melarang penggunaan gawai, melainkan mendorong penggunaan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Pendekatan ini memungkinkan kaum muda untuk tetap mendapatkan manfaat dari konektivitas dan informasi, sekaligus meminimalkan risiko negatif. Membangun kesadaran akan dampak, mengajarkan literasi digital, dan menyediakan dukungan yang relevan akan menjadi kunci dalam membimbing generasi muda Indonesia untuk menavigasi dunia digital dengan sehat dan produktif. Secara keseluruhan, tantangan yang ditimbulkan oleh screen time berlebihan memerlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Kolaborasi antara keluarga, institusi pendidikan, penyedia layanan kesehatan, dan pemerintah sangatlah penting untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan mendukung perkembangan optimal bagi kaum muda Indonesia.
Sumber Informasi
- Aulia, A., & Ifdil, I. (2017). Pengaruh Intensitas Penggunaan Smartphone Terhadap Kualitas Tidur Remaja. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 5(2), 65-71.
- Azizah, N., & Kurnia, A. (2022). Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Tingkat Kecemasan pada Remaja di Era Pandemi COVID-19. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8(1), 164-173.
- Kementerian Kesehatan RI & UNICEF Indonesia. (2022). Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kompas.com. (2022, 28 Januari). Rata-rata Waktu Main Ponsel di Indonesia Terlama di Dunia, Capai 5,7 Jam Sehari. Diakses dari https://tekno.kompas.com/read/2022/01/28/10050017/rata-rata-waktu-main-ponsel-di-indonesia-terlama-di-dunia-capai-57-jam-sehari
- Kurniawan, I., & Fitri, R. A. (2019). Hubungan Lama Penggunaan Gadget dengan Kejadian Obesitas pada Remaja. Jurnal Ilmu Keperawatan, 7(1), 1-8.
- Sari, D. P. (2020). Hubungan Durasi Penggunaan Gadget dengan Kejadian Nyeri Leher pada Siswa Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi, 4(2), 12-18.
- UNICEF. (2020). Child Online Safety in Indonesia. Diakses dari https://www.unicef.org/indonesia/reports/child-online-safety-indonesia
Impact of Screen Time on Mental and Physical Health of Young People in Indonesia: Challenges and Solutions
By: Lestarida Nainggolan S, S.ST., M.K.M.,
Midwifery Department
Pangkalpinang, 27 Juli 2025
In this increasingly digital era, screen time has become part of young people's lives, including in Indonesia. Data shows that the average Indonesian spends about 5.7 hours per day in front of screens, placing us among the top countries globally (Kompas.com, 2022). This phenomenon raises serious concerns about the mental and physical well-being of the younger generation, especially considering that 15.5 million (34.9%) Indonesian adolescents experience mental health problems (Kementerian Kesehatan RI & UNICEF Indonesia, 2022). The mental health impacts caused by excessive screen time are significant and varied. Intense screen exposure can correlate with sleep disturbances (Aulia & Ifdil, 2017), directly affecting concentration and mood during the day. On social media platforms, constant social comparison with filtered and often unrealistic self-images can trigger profound anxiety and depression (Azizah & Kurnia, 2022). Feelings of inadequacy, loneliness, and low self-esteem often arise when young people compare their real lives to idealized online representations. Furthermore, cyberbullying is a serious threat exacerbated by online anonymity; 45% of Indonesian adolescents have been victims (UNICEF, 2020). Such experiences can damage self-image, cause severe anxiety, depression, post-traumatic stress disorder (PTSD), and in extreme cases, lead to suicidal ideation. Beyond mental health, excessive screen time also causes physical health problems. Poor posture while using devices can lead to chronic neck and back pain, often referred to as "tech neck" (Sari, 2020). Prolonged screen use also increases the risk of dry eye syndrome and digital eye strain. Moreover, a sedentary lifestyle resulting from excessive screen time contributes to obesity and related health issues like type 2 diabetes in children and adolescents (Kurniawan & Fitri, 2019), and exacerbates cardiovascular problems in the long run.
To address these challenges, comprehensive solutions are needed. Early education and awareness about "digital detox" should be promoted in schools and families, encouraging open dialogue between parents and children. It's crucial to set clear time and content boundaries, and to prioritize non-screen activities such as exercise and face-to-face social interactions. Digital literacy is also vital, equipping young people with critical thinking skills regarding online content and strategies to cope with cyberbullying. Finally, increasing access to and promotion of mental health services is essential, including through teleconsultation, to ensure young people receive the help they need. Nevertheless, it's important to remember that technology is not an enemy to be completely avoided. Effective solutions do not mean banning devices, but rather encouraging wise and responsible technology use. This approach allows young people to continue benefiting from connectivity and information while minimizing negative risks. Building awareness of impacts, teaching digital literacy, and providing relevant support will be key in guiding the young generation in Indonesia to navigate the digital world healthily and productively. Overall, the challenges posed by excessive screen time require a holistic and sustainable approach. Collaboration among families, educational institutions, healthcare providers, and the government is crucial to creating a safer digital environment that supports the optimal development of young people in Indonesia.
References
- Aulia, A., & Ifdil, I. (2017). Pengaruh Intensitas Penggunaan Smartphone Terhadap Kualitas Tidur Remaja. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 5(2), 65-71.
- Azizah, N., & Kurnia, A. (2022). Hubungan Penggunaan Media Sosial dengan Tingkat Kecemasan pada Remaja di Era Pandemi COVID-19. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8(1), 164-173.
- Kementerian Kesehatan RI & UNICEF Indonesia. (2022). Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kompas.com. (2022, January 28). Rata-rata Waktu Main Ponsel di Indonesia Terlama di Dunia, Capai 5,7 Jam Sehari. Retrieved from https://tekno.kompas.com/read/2022/01/28/10050017/rata-rata-waktu-main-ponsel-di-indonesia-terlama-di-dunia-capai-57-jam-sehari
- Kurniawan, I., & Fitri, R. A. (2019). Hubungan Lama Penggunaan Gadget dengan Kejadian Obesitas pada Remaja. Jurnal Ilmu Keperawatan, 7(1), 1-8.
- Sari, D. P. (2020). Hubungan Durasi Penggunaan Gadget dengan Kejadian Nyeri Leher pada Siswa Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi, 4(2), 12-18.
- UNICEF. (2020). Child Online Safety in Indonesia. Retrieved from https://www.unicef.org/indonesia/reports/child-online-safety-indonesia