SENAM DAN DISMENOREA (NYERI HAID)
Erni Chaerani, Prodi Keperawatan Pangkalpinang
14 April 2025
Dismenorea atau nyeri saat haid merupakan permasalahan ginekologi yang paling umum di kalangan wanita. Hampir semua wanita merasakan ketidaknyamanan ketika haid/menstruasi, termasuk nyeri pada bagian bawah perut, mual, dan sakit kepala ringan, bahkan ada yang pingsan. Selain itu, kondisi ini terkadang memerlukan penggunaan obat penenang dan obat-obatan tertentu, sehingga memaksa penderitanya untuk beristirahat atau melakukan aktivitas rutin lainnya selama beberapa jam atau hari. (Zuhkrina et al., 2023). Data WHO menunjukkan bahwa 90% wanita menderita dismenorea, akibatnya tidak dapat pergi sekolah (Zuhkrina et al., 2023). Di Indonesia 55% wanita menderita dismenorea, kondisi tersebut menyebabkan perubahan pola aktivitas yang biasa mereka lakukan (Octariyana et.al, 2022).
Dilihat dari klasifikasi klinisnya, ada dua jenis dismenorea yaitu dismenorea primer (idiopatik, esensial, intrinsik) dan dismenorea sekunder (ekstrinsik, didapat). Penyakit ginekologi dan dismenorea primer tidak berhubungan. Beberapa faktor yang berkaitan dengan penyebab dismenorea antara lain (Sumiaty, 2022):
- Faktor kejiwaan, permasalahan psikologis menimbulkan penyakit fisik seperti gangguan menstruasi (dismenorea).
- Faktor konstitusi, resistensi seseorang terhadap rasa sakit sangat terkait dengan masalah psikologis sebagai penyebab utama gejala dismenorea seperti anemia, penyakit menahun.
- Faktor pengetahuan, pengalaman menstruasi yang buruk pada seorang wanita menyebabkan sejumlah perilaku tidak normal.
- Faktor endokrin, kebanyakan orang percaya bahwa kram perut akibat dismenorea disebabkan oleh kontraksi rahim yang berlebihan. Gangguan ini terkait erat dengan variabel endokrin.
Meski dismenorea tidak terlalu berbahaya, namun bila dialami setiap bulan bisa menyebabkan penderitaan. Dismenorea merupakan salah satu kondisi yang memicu gejala endometriosis yang berdampak besar pada kesehatan, kualitas hidup, dan kesuburan wanita, maka disarankan untuk tidak membiarkan kondisi ini terjadi (Sumiyati et al., 2023). Ada berbagai pengobatan farmakologis dan non-farmakologis untuk dismenorea. Terapi non-farmakologis tidak memiliki efek samping yang sama seperti pengobatan, maka pendekatan ini lebih aman untuk digunakan. Senam dismenorea merupakan metode pengobatan dismenorea nonfarmakologis (Rachmawati et al., 2020).
Senam dismenorea bertujuan untuk memperkuat otot dasar panggul, melebarkan serta memperbesar pembuluh darah, sehingga membantu suplai oksigen ke organ reproduksi dan mengurangi nyeri saat kejang otot rahim (Hermaniati et al., n.d.). Sumiyati et al menjelaskan bahwa senam dismenorea dapat mengurangi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan kram menstruasi. Intensitas rasa tidak nyaman dapat berkurang jika melakukan senam dismenore lebih sering dan konsisten, 2 hingga 5 kali seminggu selama 10 hingga 45 menit.
Gerakan senam dismenorea diawali dengan gerakan pemanasan seperti senam pada umumnya, yaitu dengan menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri bergantian, memutar kedua bahu secara bersamaan ke arah depan dan belakang secara bergantian, merentangkan kedua kaki selebar bahu lalu menggoyangkan badan ke arah kanan dan kiri bergantian. Gerakan pemanasan dilakukan masing-masing 2 x 8 hitungan. Selanjutnya senam inti dilakukan dengan cara posisi duduk, kaki kiri dilipat, kaki kanan direntangkan menyamping, kepala tertunduk, dan lengan diluruskan lurus menyentuh kaki ditahan selama 30 detik atau 8 hitungan, lalu ganti kaki kanan dilipat dan kaki kiri yang direntangkan.
Gerakan kedua pada senam inti dilakukan dengan posisi tidur telentang, kedua tangan diletakkan di atas perut, kaki dilipat, menjepit otot vagina seperti sedang menahan kencing, ditahan selama 30 detik atau 8 hitungan, lalu dilepaskan, diulangi lagi 2 – 3 kali hitungan. Gerakan senam inti berikutnya masih posisi tidur telentang, kaki dilipat, kedua tangan diletakkan di atas perut, tarik nafas dalam melalui hidung lepaskan melalui mulut, dilakukan sampai hitungan delapan. Gerakan terakhir adalah pendinginan dengan merentangkan ke dua tangan ke samping, kaki dibuka ditekuk ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Lengan kiri ditekuk, lengan kanan ditarik kekiri melintasi dada lalu tarik nafas dalam-dalam dan dikeluarkan melalui mulut. Setiap gerakan dilakukan dengan perasaan bahagia sambil membayangkan hal yang menyenangkan.
Senam dismenorea mempunyai pengaruh dalam mengurangi nyeri haid. Bagi para wanita yang mengalami nyeri saat haid, hendaknya secara kontinyu melakukan senam agar terhindar dari gejala endometriosis yang berdampak pada kesehatan, kualitas hidup, dan kesuburan wanita.
EXERCISE AND DYSMENORRHEA
Erni Chaerani, Prodi Keperawatan Pangkalpinang
14 April 2025
Dysmenorrhea or menstrual pain is the most common gynecological problem among women. Almost all women feel discomfort during menstruation, including pain in the lower abdomen, nausea, and mild headaches, some even faint. In addition, this condition sometimes requires the use of sedatives and certain drugs, forcing sufferers to rest or do other routine activities for several hours or days. (Zuhkrina et al., 2023). WHO data shows that 90% of women suffer from dysmenorrhea, as a result they cannot go to school (Zuhkrina et al., 2023). In Indonesia, 55% of women suffer from dysmenorrhea, this condition causes changes in their usual activity patterns (Octariyana et.al, 2022). Judging from the clinical classification, there are two types of dysmenorrhea, namely primary dysmenorrhea (idiopathic, essential, intrinsic) and secondary dysmenorrhea (extrinsic, acquired). Gynecological diseases and primary dysmenorrhea are not related. Several factors related to the causes of dysmenorrhea include (Sumiaty, 2022):
a. Psychological factors, psychological problems cause physical illnesses such as menstrual disorders (dysmenorrhea).
b. Constitutional factors, a person's resistance to pain is closely related to psychological problems as the main cause of dysmenorrhea symptoms such as anemia, chronic diseases.
c. Knowledge factors, a woman's bad menstrual experience causes a number of abnormal behaviors.
d. Endocrine factors, most people believe that abdominal cramps due to dysmenorrhea are caused by excessive uterine contractions. This disorder is closely related to endocrine variables.
Although dysmenorrhea is not too dangerous, if experienced every month it can cause suffering. Dysmenorrhea is one of the conditions that triggers endometriosis symptoms which have a major impact on women's health, quality of life, and fertility, so it is advisable not to let this condition occur (Sumiyati et al., 2023). There are various pharmacological and non-pharmacological treatments for dysmenorrhea. Non-pharmacological therapy does not have the same side effects as medication, so this approach is safer to use. Dysmenorrhea exercise is a non-pharmacological method of treating dysmenorrhea (Rachmawati et al., 2020).
Dysmenorrhea exercise aims to strengthen the pelvic floor muscles, widen and enlarge blood vessels, thereby helping the supply of oxygen to the reproductive organs and reducing pain during uterine muscle spasms (Hermaniati et al., n.d.). Sumiyati et al explained that dysmenorrhea exercise can reduce discomfort associated with menstrual cramps. The intensity of discomfort can be reduced if you do dysmenorrhea exercise more often and consistently, 2 to 5 times a week for 10 to 45 minutes.
Dysmenorrhea exercise movements begin with warm-up movements like gymnastics in general, namely by moving the head to the right and left alternately, rotating both shoulders simultaneously to the front and back alternately, spreading both legs shoulder-width apart and then shaking the body to the right and left alternately. Warm-up movements are done 2 x 8 counts each. Next, core gymnastics is done by sitting, left leg folded, right leg stretched to the side, head bowed, and arms straightened straight touching the feet held for 30 seconds or 8 counts, then switch the right leg folded and the left leg stretched.
The second movement in core gymnastics is done by lying on your back, both hands placed on your stomach, legs folded, pinching the vaginal muscles as if holding urine, held for 30 seconds or 8 counts, then released, repeated 2-3 times. The next core gymnastics movement is still lying on your back, legs folded, both hands placed on your stomach, take a deep breath through your nose and release through your mouth, done until the count of eight. The last movement is to cool down by stretching both arms to the side, legs opened and bent to the left and right alternately. The left arm is bent, the right arm is pulled to the left across the chest then take a deep breath and exhale through the mouth. Each movement is done with a happy feeling while imagining something pleasant.
Dysmenorrhea gymnastics has an effect on reducing menstrual pain. For women who experience pain during menstruation, they should continuously do exercise to avoid endometriosis symptoms which have an impact on women's health, quality of life, and fertility.